Binahong – Anredera cordifolia (Ten.) Steenis

Binahong - Anredera Cordifolia - Tanaman Obat Taman Husada

Binahong – Anredera Cordifolia

Klasifikasi

Kerajaan          : Plantae
Divisi               : Magnoliophyta
Kelas               : Magnoliopsida
Bangsa            : Caryophyllales
Suku                : Basellaceae
Marga              : Anredera
Jenis                : Anredera cordifolia (Ten.) Steenis
Sinonim           : Boussingaultia cordata Spreng., Boussingaultia cordifolia Ten., Boussingaultia gracilis Miers (Sumber : NCBI Taxonomy Homepage 1, IPNI 2, www.plantlist.org 16)

Nama Umum/Dagang
Binahong.

Nama Indonesia dan Internasional
Indonesia        : binahong,
Internasional   : madeira vine, mignonette vine.

Distribusi
Binahong berasal dari Paraguay, Brazil bagian Selatan dan Argentina bagian Utara.3

Habitat
Binahong tumbuh di daerah dataran rendah hingga ketinggian 1.000 m dpl. pada kondisi yang lembab, suhu 20-30°C (bulan Januari) dan 10-30°C (bulan Juli).4

Deskripsi
Binahong merupakan tumbuhan liana berumur panjang dengan tinggi lebih dari 6 m.  Akar tunggang berwarna cokelat membentuk umbi dan lunak. Batang tidak berkayu tidak berair, bentuk silindris, saling membelit, permukaan halus, warna merah, bagian dalam padat. Binahong memiliki umbi yang terdapat di dalam tanah dan ketiak daun dengan bentuk tak beraturan dan bertekstur kasar.
Daun tunggal, tersusun berseling, bentuk jantung, panjang 5-10 cm, lebar 3-7 cm, tekstur tipis lemas, ujung runcing, pangkal berlekuk, tepi rata, permukaan licin. Tangkai daun pendek.
Bunga majemuk, berbentuk tandan, tangkai yang panjang, muncul di ketiak daun. Daun kelopak berwarna hijau, 5 helai berlekatan. Daun mahkota berwarna putih krem, berjumlah 5 helai tidak berlekatan, panjang 0,5-1 cm, berbau harum.

Bagian yang Digunakan
Daun dan umbi.

Kandungan Senyawa Kimia
Senyawa kimia yang terdapat dalam binahong adalah 3-hidroksi-30-horoleana-12, 18-dien-29-oat, larragenin, etil ester, asam ursolat6. Umbinya mengandung alkaloid, saponin, flavonoid dan polifenol.8 Binahong mengandung beberapa metabolit sekunder, yaitu jenis flavonoid, alkaloid, polifenol, triterpenoid dan saponin9. Flavonoid yang terkandung dalam binahong dapat mengurangi inflamasi.14

Penggunaan Untuk Pengobatan
Penggunaan yang didukung data klinik
Belum ada informasi yang mencukupi

Penggunaan secara tradisional
Secara tradisional, binahong digunakan untuk mengobati penyakit tifus, sesak napas, maag, asam urat, pembengkakan hati, radang usus, gangguan pada ginjal dan penyembuhan luka.9,11,12

Aspek Farmakologi
Aktivitas pada ginjal
Uji pada ginjal tikus yang rusak setelah pemberian gentamisin dan piroksikam yang diberi ekstrak etanol daun binahong pada hari ke 8 sampai 4 minggu dengan dosis 50, 100 dan 150 mg/kg BB menunjukkan hasil adanya penurunan kadar kreatinin, kadar urea dalam serum serta memperbaiki sel ginjal yang rusak. 17

Aktivitas antidiabetes
Senyawa aktif yang berperan dalam menurunkan kadar glukosa darah adalah saponin dalam ekstrak etanol binahong. Mekanisme kerjanya sama dengan obat hipoglikemik oral (OHO) golongan sulfonilurea.9
Mekanisme kerja saponin dalam binahong sama dengan obat antidiabetes golongan sulfonilurea, yaitu menghambat channel K-ATPase sehingga aliran kalium (K+) keluar sel menjadi terganggu. Terganggunya aliran kalium (K+)  menyebabkan terjadinya depolarisasi membran sel β pankreas, sehingga channel Ca-ATPase terbuka dan ion kalsium (Ca+) mengalir masuk ke sitoplasma. Keberadaan ion kalsium tersebut mengaktifkan enzim kalmodulin dalam sel sehingga terjadi eksositosis insulin dari vesikel untuk disekresi keluar sel.9,15

Aktivitas Antimikroba
Aktivitas flavonoid dalam ekstrak daun binahong disebabkan oleh kemampuannya dalam membentuk kompleks dengan protein ekstraseluler terlarut dan  dinding sel. Flavonoid yang bersifat lipofollik mungkin akan merusak membran sel mikroba. Rusaknya membran dan dinding sel akan menyebabkan metabolit penting di dalam sel akan keluar, akibatnya terjadi kematian sel. Saponin memiliki efek sebagai antibakteri karena akan merusak membran sitoplasma yang kemungkinan mempunyai efek yang sinergis maupun aditif dengan tanin dalam merusak permeabilitas sel bakteri itu sendiri.12
Ekstrak air binahong aktif terhadap bakteri gram positif dan gram negatif pada konsentrasi 50 mg/ml7. Aplikasi klinis yang memungkinkan dari penggunaan ekstrak daun binahong secara oral adalah untuk pengobatan pneumonia akibat infeksi Klebsiella pneumoniae. 12

Aktivitas Lainnya
Ekstrak metanol daun binahong menunjukkan efek anti-inflamasi dan ekstrak etanol binahong memiliki efek anti-oksidan dan memiliki aktivitas hepatoprotektor. Kandungan utama daun binahong adalah flavonoid. Ekstrak etanol binahong dapat menurunkan kolesterol pada tikus Wistar. Senyawa acordin (protein) dari akar menunjukkan adanya aktivitas terhadap pelepasan NO yang dapat melebarkan pembuluh darah dan menurunkan tekanan darah dan diduga flavonoid aktif untuk berbagai penyakit.6

Toksisitas
Berdasarkan uji preklinis pengobatan diabetes dengan menggunakan kombinasi ekstrak binahong dan sambiloto (Andrographis paniculata Nees) selama 14 dan 21 hari dengan dosis 750, 375 dan 187,5 mg/kg BB cenderung masih dalam batas aman karena tidak menimbulkan hipoglikemia.9
Penambahan dosis binahong sebagai antidiabetes tidak terlalu banyak pengaruhnya pada tubuh, bahkan dapat menjadi toksik akibat pemberian dosis yang berlebih.8

Kontraindikasi
Penggunaan ekstrak daun Binahong sebagai pengobatan antimikroba tidak boleh diberikan pada pasien hipoglikemia, karena kandungan saponin akan menurunkan kadar gula darah yang cukup signifikan.9

Peringatan
Konsumsi saponin dan flavonoid yang terkandung dalam daun binahong secara terus menerus dalam dosis yang tinggi akan mengakibatkan hipoglikemia akut.8,9

Perhatian
Umum
Pengobatan dengan menggunakan ekstrak daun binahong sebagai antimikroba dan antidiabetes tidak boleh terlalu lama dan dalam dosis yang tinggi, karena kandungan saponinnya akan  menyebabkan hipoglikemia akut dan dapat mengganggu flora normal tubuh.8,9

Interaksi Obat
Konsumsi obat-obat antidiabetes tidak boleh dilakukan selama mengonsumsi ekstrak binahong untuk terapi antimikroba, khususnya golongan sulfonilurea yang efeknya dapat meningkatkan. Hal ini disebabkan karena belum adanya penelitian tentang kombinasi obat golongan sulfonilurea dengan ekstrak binahong sebagai antidiabetes, maka dikhawatirkan dapat terjadi hipoglikemia akut.15

Penggunaan pada Ibu Hamil
Tidak boleh digunakan pada ibu hamil, karena belum didapatkan data yang mencukupi tentang pengaruh penggunaan ekstrak binahong sebagai terapi terhadap bayi yang dikandung.

Penggunaan pada Ibu Menyusui
Belum didapatkan data yang mencukupi untuk penggunaannya pada ibu menyusui.

Penggunaan pada Anak-anak
Belum didapatkan data yang mencukupi untuk penggunaannya pada anak-anak.

Efek Samping
Belum didapatkan data yang mencukupi untuk efek samping atas penggunaan binahong sebagai terapi pencegahan dan penyembuhan.

Pemakaian
Belum didapatkan data yang mencukupi untuk cara pemakaian binahong sebagai terapi pencegahan dan penyembuhan.

Budidaya
Binahong berkembangbiak dengan cara generatif (biji), namun lebih sering berkembang atau dikembangbiakan secara vegetatif melalui umbinya. Tumbuhan ini banyak ditanam di dalam pot sebagai tanaman hias dan obat.
Perbanyakan dari umbi akar dilakukan dengan cara mencabut atau memisahkan umbi dari pohon induk, dipilih umbi yang telah cukup tua. Umbi ditanam pada media tanah yang telah dicampur pupuk kandang dengan perbandingan  1:1. Umbi yang telah ditanam sebaiknya diberi naungan sampai 50%. Perbanyakan dengan biji menggunakan biji yang telah masak. Perbanyakan tumbuhan ini umumnya dilakukan dengan cara vegetatif karena lebih cepat tumbuh dan sifatnya sama dengan induknya.

Pustaka

  1. Anonim, 2013. NCBI Taxonomy Homepage : Anredera cordifolia http://www.ncbi.nlm.nih.gov/Taxonomy/Browser/wwwtax.cgi (Diakses pada 2 Oktober 2013 pkl. 19.27 WIB).
  2. Anonim, 2013. The International Plant Name Index : Anredera cordifolia http://ipni.org/ipni/simplePlantNameSearch.do;jsessionid=903B6BBA3AEB23922AD9FF903CBA3F39?find_wholeName=anredera+cordifolia&output_format=normal&query_type=by_query&back_ `page=query_ipni.html (Diakses pada 2 Oktober 2013 pkl. 19.28 WIB).
  3. Wagner WL, Herbst DR, Sohmer, Manual of the Flowering Plants of Hawai’i. 2 vols. Bishop Museum Special Publication 83. University of Hawaii Press and Bishop Museum Press, Honolulu, HI. 1999. in Starr F, Starr K, Loope L. Anredera cordifolia, Madeira Vine. United States Geological Survey. Biological Resource Division. Haleakala Field Station, Maui, Hawai. 2003.
  4. Anonim, 1986. Hammond Citation World Atlas. Hammond Incorporated, Maplewood, NJ. dalam Starr F, Starr K, Loope L. 2003. Anredera cordifolia, Madeira Vine. United States Geological Survey. Biological Resource Division. Haleakala Field Station, Maui, Hawaii.
  5. Anonim, 2008. Badan POM RI. Direktorat Obat Asli Indonesia.http://perpustakaan.pom.go.id/ebook/Taksonomi%20Koleksi%20Tanaman%20Obat%20Kebun%20Tanaman%20Obat%20Citeureup/Anredera%20cordifolia%C2%A0%C2%A0(Ten.)%20Steenis.pdf. (Diakses pada 2 Oktober 2013 pkl. 19.45 WIB).
  6. Elin Y, Atun S, Lady Q. Effect of methanol extract heartleaf madeiravine (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) leaves on blood sugar in diabetes mellitus model mice. Jurnal Medika Planta, 2011; 1: 4.
  7. Indri W, Adeanne M, Weny W. Uji ekstrak daun binahong (Anredera cordifolia Steen.) terhadap kadar gula darah pada tikus putih jantan galur wistar (Rattus norvegicus) yang diinduksi sukrosa. Program Studi Farmasi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sam Ratulangi. Manado. 2013.
  8. Saleh C, Sitorus S, Nursanti R. Uji hipoglikemik ekstrak etanol umbi Anredera cordifolia (Ten.) Steenis. Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Mulawarman. Samarinda. 2012.
  9. Okvitasari P. Pengaruh campuran ekstrak tanaman binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) dan sambiloto (Andrographis paniculata Nees.) terhadap kadar glukosa darah tikus putih (Rattus norvegicus L.) Jantan. Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia. Depok. 2011.
  10. Widya S, Max RJR, Gayatri C. Kandungan flavonoid dan kapasitas antioksidan total ekstrak etanol daun binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis.). Program Studi Farmasi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sam Ratulangi. Manado. 2013.
  11. Lina R, Enny F, Dewi K. Isolasi, identifikasi dan uji aktivitas antioksidan senyawa flavonoid daun binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis). Jurusan Kimia, Fakultas Sains dan Matematika, Universitas Diponegoro. Semarang. 2012.
  12. Noorhamdani A, Setyohadi R, Akmal FYU. Uji efektivitas ekstrak daun binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) sebagai antimikroba terhadap bakteri Klebsiella pneumoniae secara In Vitro. Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran, Universitas Brawijaya. Malang. 2012.
  13. Sumarno, Pudjo S, Isabella R. Uji efektivitas ekstrak daun binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) sebagai antimikroba terhadap Pseudomonas aeruginosa secara In vitro. Universitas Brawijaya. Malang. 2012.
  14. Sri S. Pengaruh pemberian binahong (Anredera cordifolia) terhadap sel radang dan sel fibroblast pada hematoma regio femoris ventralis Rattus norvegicus strain wistar jantan. Program Pasca Sarjana, Universitas Airlangga. Surabaya. 2009.
  15. Laurence LB, John SL, Keith LP. Goodman & gilman’s the harmalogical basis of therapeutics, 11th  McGraw Hill. United State of America.
  16. 2014. The International Plant Name Index : Anredera cordifolia (Ten.) Steenis http://www.plantlist.org/ (Diakses pada 8 Mei 2014 pkl. 10.54 WIB).
  17. Y. Sukandar, I. Fidrianny and L.F. Adiwibowo, 2011. Efficacy of Ethanol Extract of Anredera cordifolia (Ten) Steenis Leaves on Improving Kidney Failure in Rats. International Journal of Pharmacology, 7: 850-855