Lidah buaya – Aloe vera (L.) Burm.f.

aloe vera - tanaman obat taman husada

bagian-bagian aloe vera - tanaman obat taman husadaKeterangan : daun dalam roset akar (A); helaian daun berdaging (B); perbungaan (C); benang sari (D-F); putik (G); putik dan benang sari (H); putik (I); irisan membujur bakal buah (J); irisan melintang bakal buah (K)

Klasifikasi

Kerajaan                     : Plantae
Divisi                           : Magnoliophyta
Kelas                           : Liliopsida
Bangsa                        : Asparagales
Suku                            : Xanthorrhoeaceae
Marga                          : Aloe
Jenis                            : Aloe vera (L.) Burm.f.

Sinonim                       : Aloe barbadensis Mill., Aloe chinensis Steud. ex Baker, Aloe elongata Murray, Aloe flava Pers., Aloe indica Royle, Aloe lanzae Tod., Aloe maculata Forssk., Aloe perfoliata var. vera L., Aloe rubescens DC., Aloe variegata Forssk., Aloe vulgaris Lam.
Sumber: NCBI Taxonomy Homepage 1, IPNI 2, www.plantlist.org 10

Nama Dagang
Lidah buaya.

Nama Lokal dan Internasional
Indonesia        : lidah buaya
Internasional   : crocodile tongues 4, true aloe.

Distribusi
Lidah buaya berasal dari Semenanjung Arab bagian barat daya hingga Mediterania dan kini telah tersebar luas di seluruh dunia.

Habitat
Lidah buaya tumbuh liar di daerah padang pasir yang kering. Tumbuhan ini menyukai tempat yang berhawa panas dan biasa ditanam di pot dan pekarangan rumah sebagai tanaman hias. 4

Deskripsi
Lidah buaya merupakan tumbuhan sukulen dengan tinggi 30-120 cm. Akar serabut, warna kuning kecokelatan. Batangnya berbentuk bulat, tidak berkayu dan berwarna putih karena terlindung daun, selanjutnya setelah daun rontok menjadi hijau, dan akhirnya cokelat.

Daun tunggal dan termasuk daun yang tidak lengkap karena hanya terdiri atas helaian saja, tanpa ada pelepah dan tangkai daun. Daun tersusun dalam roset akar,  helaian daun berbentuk pedang, ujung runcing, pangkal tumpul, tepi daun bergerigi (berduri), panjang 30-60 cm, lebar 3-7 cm, berdaging tebal, getah kuning, berwarna hijau, permukaan atas dan bawah licin tertutup lapisan lilin, pertulangan daun sejajar.

Bunga majemuk, bentuk malai, panjang sampai 90 cm, muncul di ujung batang (bunga terminal), panjang daun pelindung 8-15 mm. Bunga banci (benang sari dan putik dalam satu bunga), bentuk tabung, panjang 2-3 cm, warna jingga atau merah, benang sari berjumlah 6, putik menyembul ke luar atau melekat pada pangkal kepala sari, tangkai putik berbentuk benang, kepala putik berukuran kecil.

Buah kotak, berkatup, warna hijau keputihan. Biji berukuran kecil, warna hitam. 3

Bagian yang Digunakan untuk Obat
Daun, Gel dari daun segar6

Kandungan Senyawa Kimia
Daun lidah buaya mengandung derivat hidroksianthrone, terutama aloe-emodin-anthrone 10 C-glukosida. Senyawa mayornya dikenal sebagai barbaloin (aloin). Gel daun lidah buaya mengandung air, polisakarida, asam amino, lipid, sterol, tanin dan enzim. Senyawa gula utamanya adalah mannose 6- phosphate. 6

struktur kimia senyawa pada aloe vera - tanaman obat taman husada

Struktur kimia senyawa yang terkandung pada lidah buaya(6)

Penggunaan untuk Obat
Penggunaan yang
Didukung Data Klinik
Untuk mengatasi konstipasi jangka pendek. 6

Penggunaan secara tradisional,
Belum didukung dengan percobaan atau data klinik, lidah buaya digunakan untuk mengatasi dermatitis, peptik ulcer, TBC, infeksi jamur, menurunkan kadar gula darah. Pemakaian luar untuk mengobati luka, radang pada kulit, iritasi dan luka bakar.

Aspek Farmakologi
Aktivitas sebagai pencahar
Penelitian untuk mengetahui aktivitas lidah buaya sebagai pencahar telah dilakukan dengan menggunakan jus dari bagian terluar daun lidah buaya yang berwarna hijau dan gel (bagian transparan dalam daun) yang diberikan pada tikus. Hasil penelitian menunjukkan jus yang dibuat dari filtrat lidah buaya dengan penambahan air (1:3) untuk  tiap bagian daun  mempunyai efek yang sama dengan dulcolax. 7

Aktivitas penyembuh luka
Studi in vivo dengan menggunakan hewan percobaan memperlihatkan bahwa gel daun lidah buaya meningkatkan proses penyembuhan luka dengan meningkatkan pembentukan kolagen dan sintesa proteoglikan yang berperan dalam  perbaikan jaringan.6

Aktivitas antiinflamasi
Aktivitas anti-inflamasi (anti peradangan) telah diuji secara laboratorium dengan  hewan coba. Gel daun lidah buaya segar dapat menurunkan peradangan akut pada tikus yang telah diinduksi sebelumnya dengan caragen.

Lupeol, salah satu senyawa yang ada pada lidah buaya dilaporkan sebagai senyawa yang paling aktif menurunkan peradangan. Data ini juga memberikan pandangan bahwa senyawa sterol mungkin juga berkonstribusi terhadap aktivitas antiradang dari lidah buaya.6

Uji Klinis
Aktivitas untuk
Pengobatan Luka Bakar
Penelitian penggunaan gel daun lidah buaya pada 27 pasien yang menderita luka bakar yang dibandingkan dengan kelompok kontrol yang diberi jelly petroleum telah dilakukan. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa pasien yang mendapatkan pengobatan dengan penambahan gel daun lidah buaya mengalami penyembuhan lebih cepat (11,8 hari) dibandingkan dengan yang diberi jelly petroleum (18,2 hari). 6

Aktivitas sebagai Antiacne (Antijerawat)
Uji aktivitas gel lidah buaya terhadap 17 pasien yang mempunyai masalah dengan jerawat dibandingkan dengan pemberian gel polyethylen oksida sebagai standar telah dilakukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyembuhan luka jerawat lebih cepat 72 jam pada gel daun lidah buaya dibandingkan dengan gel polyethylen oksida.8

Aktivitas untuk Mengobati Herpes Genitalis
Percobaan menggunakan lidah buaya pada 120 pasien laki-laki penderita herpes genitalis telah dilakukan. Subyek terbagi dalam 3 kategori, yaitu sebagian diberi krem lidah buaya, gel lidah buaya dan plasebo. Pengobatan dilakukan sebanyak 3 kali sehari selama 2 minggu. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa 70% pasien yang diberi krem lidah buaya sembuh dalam waktu 4,8 hari; 45% pasien yang diberi gel lidah buaya sembuh dalam waktu 7 hari dan 7,5% pasien yang diberi plasebo sembuh dalam waktu 14 hari.9

Toksisitas
Belum ada data informasi yang mencukupi

Kontra Indikasi
Tumbuhan ini tidak boleh digunakan pada orang-orang yang diketahui alergi terhadap jenis-jenis tumbuhan dari  Xanthorrhoeaceae.

Perhatian
Secara umum, tumbuhan ini aman untuk dikonsumsi namun demikian, pemakaian dalam jumlah besar dapat menyebabkan diare berkaitan dengan efeknya sebagai pencahar.

Interaksi obat
Belum ada informasi yang mencukupi.

Penggunaan pada ibu hamil
Belum ada informasi yang mencukupi.

Penggunaan pada ibu menyusui
Belum ada informasi yang mencukupi.

Penggunaan pada anak-anak
Belum ada informasi yang mencukupi.

Efek Samping
Pemakaian secara topikal ada yang menyebabkan rasa terbakar pada kulit.6

Pemakaian
Pemakaian luar: dioleskan pada kulit yang bermasalah.
Pemakaian dalam:  jus lidah buaya 2-3 sendok makan sehari (50 ml).

Budidaya
Lidah buaya dapat diperbanyak dengan stek, pemisahan anakan dan biji. Peremajaan tumbuhan ini dilakukan dengan memangkas habis daun dan batangnya, kemudian dari sisa tunggul batang ini akan muncul tunas-tunas baru atau anakan. 5

Pustaka

  1. Anonim, 2013. NCBI Taxonomy Homepage : Aloe vera http://www.ncbi.nlm.nih.gov/Taxonomy/Browser/wwwtax.cgi?mode=Info&id=3419  9&lvl=3&lin=f&keep=1&srchmode=1&unlock (Diakses pada 23 September 2013 pkl. 09.25 WIB).
  2. Anonim, 2013. The International Plant Name Index : Aloe vera http://ipni.org/ipni/simplePlantNameSearch.do;jsessionid=83BF3CFE3DE7578A3E8536429151D9EB?find_wholeName=aloe+vera&output_format=normal&quey_type=by_query&back_page=query_ipni.html (Diakses pada 23 September 2013 pkl.09.28 WIB).
  3. Syamsuhidayat SS, Hutapea JR. Inventaris tanaman obat Indonesia Jilid I. Jakarta: Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial RI. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 2000.
  4. Anonim, 2013. Sentra Informasi IPTEK. Tanaman Obat Indonesia : Lidah Buaya http://www.iptek.net.id/ind/pd_tanobat/view.php?mnu=2&id=45 (Diakses pada  30 September 2013 pkl 23.26 WIB).
  5. Anonim, 2013. Sistem Informasi Tanaman Obat Fak. Farmasi Univ. Airlangga: Aloe vera. http://ff.unair.ac.id/sito/index.php?search=aloe+vera&p=1&mode=search&cari=Cari&more=true&id=199 (Diakses pada 30 September 2013 pkl. 23.29 WIB).
  6. WHO Monographs on Selected Medicinal Plants, Vol. 1. Geneva. WHO. 1999: p. 33-50.
  7. Pujiastuti. Uji laksatif lidah buaya (Aloe vera L.) pada tikus putih dengan metode transit i Jurnal Bahan Alam Indonesia. 2010; 7: 2.
  8. Futon JE. The stimulation of postdermabrasion wound healing with stabilied-Aloe vera gel-polyethylene oxide ressing. The Journal of Dermatologic Surgery and Oncology. 1990; 16: 460-467.
  9. Syed TA, Cheema KM, Ashfag A, and Holt AH. Aloe vera extract 0,5% in a hyrophilic cream versus Aloe vera gel for the management of genital herpes in males: A placebo-controlled, double-blind, comparative study (Letter). Journal of The European Academy of Dermatology and Venereol 1996; 7: 234-295.
  10. Anonim, 2014. The International Plant Name Index : Aloe vera () Burm.f. http://www.plantlist.org/ (Diakses pada 8 Mei 2014 pkl. 10.22 WIB).